Kedudukan dan peranan timbal balik hukum dan sistem pergaulan hidup manusia (BAG 1)

Published 6 September 2012 by akunurmadiah

Tiap masyarakat sebagai suatu sistem pergaulan hidup manusia, dulu maupun sekarang dan di daerah manapun di dunia ini, mengenal sistem hukumnya. Tidak ada masyarakat yang tideak mempunyai sistem hukumnya, betapapun bentuk formal serta materialnya dari sistem hukum itu.

Dapatkah kita membayangkan adanya suatu masyarakat tanpa hukum yang berlaku untuk mengatur dan mempertahankan sistem pergaulan hidup para anggotanya? Seandainya  ada masyarakat demikian, maka di sana tidak ada peraturan dan ketentuan umum yang menetapkan batas-batas hak dan kewajiban seseorang ataupun kelompok keseluruhannya.

Ambillah suatu contoh terkecil masyarakat keluarga.Jika tidak ada hukum dalam keluarga, maka di sana tak ada pula aturan apa yang menjadi hak dan kewajiban para anggotanya. Apa hak dan kewajiban ”suami” terhadap ”istrinya”? Sebaliknya, apa pula hak dan kewajiban ”istri” terhadap suaminya? Mungkin bahkan, jika tidak ada hukum di sana, tidak adaorang yang berkedudukan suami dan istri. Sebab mungkin sekali mereka hanya kenalan saja, atau partner saja. Lebih lanjut sama halnya dengan hak dan kewajiban orang tua terhadap anaknya secara timbal balik, jika tidak ada hukum dalam keluarga itu, maka sesuatunya tidak menentu tanpa jaminan, tanpa ketertiban, tanpa kepastian, dan tanpa nilai-nilai yang dapat diakui baik-buruk secara umum.

Ambil lagi contoh masyarakat lain yang lebih besar, seperti kampung, desa, kota dan masyarakat suatu bangsa! Sebagai manusia, para anggota masyarakat itu untuk mempertahankan serta memajukan hidupnya mempunyai banyak keperluan atau kebutuhan. Sebagai makhluk hidup mereka pun mempunyai kesadaran dalam arti pengetahuan, kreativitas, perasaan, dan kemauan atau cita-cita. Dengan potensi dan kemampuannya itu mereka berperilaku, serta sambil berperilaku itu mereka membuat penilaian atau pilihan dan ketususan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang dibolehkan dan mana yang dilarang.

Dalam tiap pergaulan hidup itu para wa rganya atau anggotanya mempunyai kebutuhan dan kepentingan, yang dapat diklasifikasikan salam :

  1. kebyutuhan fisiologis, seperti makanan, minuman, pakaian, perumahan, seks.
  2. kebutuhan keamanan, ketertiban, dan ketentraman dari gangguan, ancaman atau serangan pihak lain.
  3. kebutuhan akan kerja sama yang saling menguntungkan atau kerja sama untuk tujuan-tujuan kolektif.
  4. kebutuhan akan kehormatan dirinya, akan penghargaan sebagai manusia yang bermartabat dan berkebudayaan.
  5. kebutuhan akan eksistensi dirinya dengan jiwanya yang merdeka, yang memiliki daya logika, etika dan estetika atau nalar dan kreativitas guna membudayakan dirinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: